Ibadah

Hutang Kasih

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 14 September 2014

Bacaan Alkitab: Roma 13: 7-10, Roma 1:14-15

bacaan Alkitab Roma 13:7 mengatakan “Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat”. Ayat ini mengatakan bahwa jikalau kita berhutang, hutang apapun, maka kita wajib membayarnya.  

Pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas hutang materi atau hutang uang.  Namun kita akan membicarakan tentang jenis hutang yang berbeda, yang jarang sekali dipikirkan, yaitu hutang kasih (Roma 13: 8b).

Jika kita membaca Roma 13:8  terjemahan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) yang tertulis “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”.  Sekilas, bacaan tersebut tampak membingungkan dan sepertinya tidak ada kaitan, antara Roma 13:8a “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga”, dengan Roma 13:8b “tetapi hendaklah kamu saling mengasihi”.  Tetapi hubungan ini akan tampak lebih jelas jika membaca alkitab terjemahan NIV (New International Version) yang tertulis “ Let no debt remain outstanding, except the continuing debt to love one another, for whoever loves others has fulfilled the law”.  Yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan mempunyai arti “Tidak ada hutang yang tidak lunas terbayar, kecuali hutang kasih yang berkesinambungan  antara satu dengan yang lain”.  

Tidak seperti hutang materi, hutang kasih ini tidak akan pernah lunas terbayar.  Karena pada saat kita mulai membayar hutang kasih tersebut, maka hutang kasih kita akan semakin bertambah. Dan uniknya sifat alami kasih itu, semakin banyak kita membayar hutang kasih tersebut, kasih tersebut tidak akan berkurang atau habis,  tetapi kasih itu akan semakin banyak.  Misalnya apabila kita mengasihi si A hari ini, maka kita juga harus mengasihinya besok, hari-hari berikutnya, seterusnya secara berkesinambungan.  Hutang kasih kepada Si A tidak pernah lunas terbayar dan kasih yang kita milikipun tidak akan habis, sebaliknya akan semakin bertambah.

Hutang kasih tidak bisa disejajarkan dan bukan merupakan salah satu hutang-hutang  yang lain misalnya hutang pajak, hutang hormat, hutang budi dan lain sebagainya,  namun kata kasih dalam perkataan “hutang kasih” itu sebenarnya  merupakan inti dan fondasi dasar dari pembayaran hutang apapun. Misalnya A berhutang kepada B , hutang tersebut bisa berupa materi atau non materi , maka pembayaran hutang A kepada B tidak hanya dilakukan secara transaksional (economic exchange)  atau sekedar memenuhi kewajiban atau tanggung-jawab semata, namun pembayaran hutang tersebut juga haruslah  dimotivasi,  dilandasi  dengan kasih (seperti  kasih yang dijelaskan dalam I Korintus 13) atau rasa mengasihi.

Sesuai  tema di atas yaitu hutang kasih. Bagaimana kita sebagai orang Kristen bisa memiliki hutang kasih? Kepada siapa kita berhutang kasih? Apakah kita berhutang kasih kepada orang yang berbuat baik kepada kita? Sebagai gambaran, kita bisa membaca apa yang ditulis Paulus dalam kitab Roma 1:14-15 “(14) Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. (15) Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma”.  Terjemahan Inggris kitab Roma 1:14-15 “(14) Both to Greeks and to barbarians (to the cultured and to the uncultured), both to the wise and the foolish, I have an obligation to discharge and a duty to perform and a debt to pay. (15) So, for my part, I am willing and eagerly ready to preach the Gospel to you also who are in Rome”.  Disini ada perkataan Paulus  “aku berhutang” atau “debt to pay”.  Apa yang dikerjakan Paulus untuk membayar hutangnya itu? Paulus datang ke Roma dan memberitakan kabar kasih injil kepada mereka.

Konsep hutang kasih dalam kekristenan sangatlah indah dan sama sekali berbeda  dengan konsep hutang yang ada di dunia ini. Pada saat orang Kristen menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dan pada saat kita mengimani betapa besar kasih dan anugerah yang kita terima dari Tuhan Yesus yang telah rela mati di kayu salib untuk menebus dosa kita, maka secara otomatis kita memiliki hutang kasih. Uniknya, hutang kasih tersebut bukanlah hutang kasih kita kepada Tuhan Yesus, tetapi hutang kasih kita kepada sesama, hutang kasih kita kepada orang yang ada di sekeliling kita. Walaupun orang tersebut belum pernah memberi  sesuatu atau berbuat baik kepada kita, bahkan orang tersebut bisa termasuk musuh kita, atau orang yang kita tidak kenal atau orang yang kita benci sekalipun. 

Kenapa Paulus mau membayar hutang kepada orang-orang di Roma yang tidak dikenalnya? Apakah Paulus berhutang kepada mereka? Jika kita membaca Roma 1:5 yang tertulis “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”.  Maka jawabannya ialah karena Paulus telah menerima anugerah, panggilan dan segala-galanya terlebih dahulu dari Allah. Jadi Paulus memiliki hutang kasih kepada orang-orang yang ada di Roma, bukan karena dia telah menerima kasih atau perbuatan baik dari mereka, namun lebih dikarenakan Paulus lebih dulu menerima kasih karunia dan anugerah yang besar dari Tuhan

Pertanyaan selanjutnya ialah kenapa  Paulus  tidak membayar hutang kepada Tuhan yang telah memberi anugerah yang  besar kepadanya?  Inilah keindahan dan keajaiban Allah yang bekerja di dalam hati kita.

Pertama, alkitab memang memanggil kita untuk taat dan melayani Allah, tetapi alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk taat dan melayani Allah dalam konteks kita sedang membayar hutang.  Kita tidak bisa, tidak mungkin dan tidak boleh membayar hutang kepada Allah. Karena “anugerah” bukan lagi disebut anugerah, jika dalam hati kita memiliki konsep bahwa  anugerah bisa dibayar seperti  membayar hutang. Bila kita memiliki konsep seperti  itu maka sesungguhnya kita tidak pernah menerima anugerah dari Allah. Dan tanpa anugerah dari Allah, kita tidak pernah menerima keselamatan.   Kita taat dan melayani Tuhan karena kita telah menerima anugerah yang sifatnya gratis dan tak terbayar dari Allah. 

Kedua, yang  lebih penting, setiap pelayanan kita kepada Allah, sebenarnya bukan membuat kita membayar hutang kita kepada Allah. Tapi setiap pekerjaan atau pelayanan kita bagi Allah hanya membuat kita berhutang lebih dalam. Kalau kita memakai istilah hutang, kenapa semakin banyak kita berkorban untuk Tuhan, baik materi maupun non materi, membuat hutang kita semakin dalam kepada Tuhan?   Karena alkitab mengajarkan kepada kita, satu-satunya pelayanan kita yang berkenan di hadapan Tuhan adalah pelayanan yang hanya berdasarkan kepada kekuatan dan anugerah Tuhan.  

Tuhan hanya berkenan menerima persembahan, pekerjaan, dan pelayanan  yang berasal dari kekuatan dan anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita. Tuhan tidak berkenan menerima persembahan atau pelayanan yang dikatakan  manusia berasal dari jerih payahnya,  kehebatannya, kepintarannya, atau usahanya untuk membayar hutang kepada Tuhan . Sebagai anak Tuhan, di dalam hati, kita harus  rela dan bersukacita berkorban serta menyadari bahwa segala kemampuan  kita untuk memberi persembahan, pengorbanan dan  pelayanan hanyalah berasal dari kekuatan dan anugerah Tuhan saja.  

Kiranya  kita semua boleh mengalami kasih Kristus yang begitu besar di dalam hidup kita, seperti lirik lagu yang ditulis oleh Annie Johnson Flint:

He Giveth More Grace

He giveth more grace as our burdens grow greater, He sendeth more strength as our labors increase; To added afflictions He addeth His mercy, To multiplied trials He multiplies peace.

When we have exhausted our store of endurance, When our strength has failed ere the day is half done, When we reach the end of our hoarded resources Our Father’s full giving is only begun.

Fear not that thy need shall exceed His provision, Our God ever yearns His resources to share; Lean hard on the arm everlasting, availing; The Father both thee and thy load will upbear.

His love has no limits, His grace has no measure, His power no boundary known unto men; For out of His infinite riches in Jesus He giveth, and giveth, and giveth again.

Semoga lagu yang indah tersebut  boleh selalu mengingatkan kita, betapa besar kasih Tuhan akan dunia yang penuh dosa ini. Kita diberi anugerah kasih keselamatan, kekuatan, pertolongan, kedamaian serta disediakan tempat yang terhormat disisiNya, yang sebenarnya tidak seorangpun layak menerimanya.

Biarlah anugerah kasih Tuhan yang kita terima, boleh mendorong kita memiliki pengertian dan kesadaran sikap berhutang kasih kepada sesama. Semakin dalam kita mengenal Tuhan atau semakin dalam kita melayani Tuhan, maka akan semakin dalam pula hutang kita kepada Tuhan.   Semakin dalam hutang kita kepada Tuhan, maka kita akan semakin kagum akan pekerjaanNya didalam hidup kita.

Terakhir, bagaimana mengkaitkan hutang kasih kita dengan kita mengasihi Allah? Pada Roma 13:9, disitu Paulus mengatakan “Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”.  Begitu juga ayat ke 10 menekankan hal yang mirip yaitu “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”.  Dalam kedua ayat ini, Paulus hanya menekankan hutang kasih manusia (kita)  terhadap sesama,  bukan kasih kita kepada Allah.  Dan kasih disini merupakan penggenapan  perintah hukum Taurat, khususnya perintah kedua, yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti  kamu mengasihi dirimu sendiri”.  Kenapa dalam kedua ayat ini, Paulus tidak membicarakan  bagaimana manusia (kita) mengasihi Allah?  Jawabannya ialah karena Paulus telah menjelaskannya  dalam  11 pasal dari Roma pasal 1 hingga pasal  11. Pasal 1 hingga pasal 11 menyatakan kasih Allah yang begitu besar, betapa anugerahnya yang begitu besar yang tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi menyerahkanNya bagi kita.  Paulus disini berasumsi, bahwa kita sudah seharusnya mengasihi Allah karena Allah telah memberikan segalanya bagi manusia.  Kasih Allah itu supreme dan incompareable .

Oleh sebab itu, kita tidak pernah diperintah Allah untuk mengasihi Dia seperti  kita mengasihi diri kita sendiri.  Alkitab tidak pernah memerintah kita untuk mengasihi  sesama manusia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budimu. Alkitab hanya memerintah kita untuk mengasihi sesama manusia (sejajar) seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Karena kasih Tuhan yang begitu supreme dan incomparable bagi kita, maka kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi.

Biarlah dengan kasih Kristus yang begitu besar, supreme dan incomparable itu, yang telah dicurahkan bagi kita, akan mendorong kita semakin mengasihi Allah dan berhutang kasih kepada sesama dengan selalu berjuang  mengasihi orang-orang yang berada di sekeliling kita.

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya