Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kasih Penggenapan Hukum Taurat

Ibadah

Kasih Penggenapan Hukum Taurat

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 September 2014

Bacaan Alkitab: Roma 13:8-10, Galatia 5:1,13-14

Kali ini kita akan memikirkan kasih sebagai penggenapan hukum Taurat. Dalam Roma 13:8-10, hukum Taurat dikutip 3 kali. Kaitan kasih dengan hukum Taurat adalah tema sentral dari Roma 13:8-10. Ketika kita mengerti kasih sebagai penggenapan hukum Taurat, maka akan banyak hal yang extra ordinary yang bisa kita lakukan di tengah-tengah dunia ini.

Apakah hukum Taurat itu tidak ada lagi pengaruhnya di dalam hidup kita, dan kita hanya berfokus pada kasih? John Frame mengatakan bahwa “Love is the principle of Christian Ethics”.  Bagaimana kita mengerti hukum Taurat dan menjalani hidup Kristen sesuai dengan kehendak Tuhan dalam kaitannya dengan hukum Taurat.

Kita perlu melihat sekilas apa yang dimaksud dengan hukum Taurat. Dalam NIV hukum Taurat disebut sebagai “The Law”. Meskipun the Law bisa memgacu ke dalam 5 kitab Musa. Tetapi secara khusus, Paulus berbicara tentang bagian ke 2 dari 10 Perintah Allah (dari yang ke lima sampai yang ke sepuluh) yang berkaitan dengan hubungan manusia satu sama lain. Sedangkan pengertian kasih dalam Roma 13:8-10 di sini mengacu kepada kedua hukum kasih yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kedua hukum kasih ini menyimpulkan hukum Taurat, khususnya 10 perintah Allah.

Kalau kita mengikuti kitab Roma, mulai pasal 1,2,3,4,6 dan 7, Paulus berulang-ulang mengutip hukum Taurat. Setelah sepertinya selesai membahas hukum Taurat, dalam pasal 13, mengapa Paulus kembali mengangkat  tema hukum Taurat? Sebenarnya ada dua jawaban yang saling terkait:

  • Paulus mengatakan dalam ayat Roma 13:8, sesuatu yang begitu luas “janganlah kamu berhutang kepada siapapun juga”, kecuali hutang kasih. Maka orang Yahudi akan bertanya bagaimana dengan hukum Taurat? Bukankah mereka harus melakukan hukum Taurat, berhutang untuk melakukan hukum Taurat. Kemungkinan Paulus ingin mengatakan hukum Taurat memang penting, tetapi tidak langsung kepada hukum Taurat, Ketika kamu mengasihi, kamu menggenapi hukum Taurat.

 

  • Seperti dalam Galatia 5, Paulus menjaga supaya orang Kristen yang memfokuskan kasih, tidak jatuh kepada ekstrim yang lain yaitu jatuh kepada kebebasan tidak memiliki hutang apapun kecuali hutang kasih. Jatuh kepada kemerdekaan yang anti nominianisme, bebas dari legalistik, bebas dari mentaati hukum secara literal dan ketat. Orang Yahudi menjabarkan 10 perintah Tuhan menjadi 613 peraturan yang begitu detail.  Kalau kita jatuh dari anti-nominianisme, kita bisa berbuat apa saja yang kita inginkan. Once saved always saved. Memang betul karena tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Tetapi kita bisa jatuh ke dalam pengertian yang salah, dan bebas melakukan apa saja, termasuk dosa apapun yang ingin kita kerjakan. Paulus dalam Gal 5:13 mengatakan “Saudara-saudara memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”, karena seluruh hukum Taurat tercakup dalam kasih.

 Di Indonesia, setelah pak Harto turun, waktu jaman reformasi, maka semua media pers bebas, memberitakan apa saja. Akhirnya jatuh ke ekstrim yang lain, banyak sumpah serapah, caci maki dan kata-kata yang kasar. Waktu itu ada seorang wartawan senior yang ditanya tentang tanggapannya mengenai keadaan tersebut. Dia mengatakan pers Indonesia baru belajar bebas DARI, tetapi belum belajar bebas UNTUK. Bebas dari cengkraman otoriter dari penguasa yang lalu, tetapi belum mengerti bebas untuk apa.

Ini juga yang menjadi concern Paulus, khususnya dalam Gal 5:13-14. Dimerdekakan dari hukum Taurat, tetapi untuk apa kemerdekaan tersebut. We are freed FROM the Law, but we also freed FOR the Law. Sebenarnya dalam ayat 13, kamu merdeka tetapi justru harus melayani dengan kasih. Karena ketika kita melayani dengan kasih, kita menggenapi hukum Taurat.

 Ada jembatan yang hilang/missing dari freed from the Law ke freed for the Law, dan jembatannya adalah kasih. Ini menjadi penting sekali, karena ketika Paulus mengatakan kita dimerdekakan dari kutuk hukum Taurat, Paulus juga rindu kita kembali mentaati hukum Taurat, tetapi tidak langsung berbicara freed for the Law, namun melalui kasih. Fokusnya bukan perintah langsung untuk mentaati langsung hukum Taurat, tetapi melalui Kasih.

Mengapa Paulus tidak memerintahkan untuk langsung saja mentaati hukum Taurat? Mengapa harus tidak langsung/indirect melalui kasih? Pertanyaan ini membawa kita mengerti bagaimana hidup Kristen yang Tuhan inginkan. Bagaimana kita taat kepada Tuhan, apa yang menjadi fokus kita. Apakah fokus kita kepada perintah Tuhan, atau fokus kita kepada kasih?  

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengerti apa maksud Tuhan memberikan hukum Taurat. Kita mengerti dalam Roma, bahwa Allah tidak bermaksud memberikan hukum Taurat, supaya manusia dapat mentaati, dan karena itu boleh diselamatkan. Karena manusia tidak mungkin mentaati hukum Taurat itu dengan sempurna. Tidak ada seorangpun yang berani mengatakan bahwa dia sudah mentaati 10 perintah Allah dengan sempurna.

Inilah bedanya Kristen dengan agama-agama lain. Agama-agama lain mengajarkan supaya menturuti perintah Tuhan dengan berjuang, dan mereka juga menyadari bahwa ketaatan itu tidak bisa sempurna. Bagaimana kalau tidak sempurna, maka ditimbang mana yang lebih banyak, jika lebih banyak perbuatan baiknya maka masuk surga, kalau tidak masuk neraka. Tetapi tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti apa yang menjadi timbangannya. Kalau begitu jawabanya adalah “mudah-mudahan” bisa masuk surga. Jadi tidak ada yang pasti.

Alkitab mengatakan manusia tidak bisa mentaati hukum Taurat dengan sempurna, dan manusia sudah gagal mentaati hukum Taurat. Upah kegagalan ini adalah maut. Maka tidak mungkin ditimbang. Walaupun kejahatannya hanya satu saja, maka layak dihukum mati. Dokter yang sudah 100 kali mengoperasi pasien sampai sembuh. Tetapi waktu dia mengoperasi ke 101, dan salah operasi, maka dia tidak bisa menggantungkan diri dari 100 operasi sebelumnya, dia tetap dihukum karena mal-praktek. Tidak mungkin manusia bisa diselamatkan dengan cara demikian, karena semua manusia sudah bersalah dihadapan hukum Taurat.

Hukum Taurat diberikan bukan karena manusia bisa diselamatkan karenanya. Tuhan memberikan hukum Taurat bukan untuk memberikan kita hidup. Hukum Taurat itu suci, dan waktu hukum itu datang kepada manusia yang berdosa, maka hukum Taurat itu hanya bisa condemn bahwa manusia sudah bersalah. Roma 7:7-14 mengatakan “Jika demikian apakah yang dapat kita katakan, apakah hukum Taurat itu dosa, sekali-kali tidak, sebaliknya justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa, karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan “Jangan mengingini. (8) Tetapi dalam perintah itu dosa mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan rupa-rupa keinginan, sebab tanpa hukum Taurat dosa mati. (9) Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, (10) sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.(11) Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku, dan oleh perintah itu ia membunuh aku.(12) Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus benar, dan baik.(13) Jika demikian adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. (14) Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging,terjual di bawah kuasa dosa.”

Secara sederhana, kita bisa mengerti bahwa hukum Taurat itu seperti CT-Scan. Ketika kita tidak di-scan, apakah kita sakit kanker? Kita tidak tahu, tetapi kalau kita tidak tahu apakah kita tidak sakit? CT-Scan itu menyatakan penyakitnya. Dalam Roma 7, Paulus mengatakan jika tidak ada Taurat, kita rasa tidak ada masalah, tetapi ketika hukum itu datang, justru di dalam hati kita timbul keinginan untuk berbuat dosa. Ini mengkonfirmasi dosa, Roma 3:20 mengatakan “oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”.

Inilah keunikan Alkitab, hukum Taurat diberikan bukan supaya kita mentaati dan diselamatkan, tetapi justru memberitahu bahwa kita sudah berdosa. Tetapi hukum Taurat tidak berhenti sampai di situ, hukum Taurat juga memberi surat referensi ke dokter satu-satunya di seluruh alam semesta, yang bisa menyembuhkan kita, yaitu Kristus yang menggenapi seluruh hukum Taurat. Gal 3:13 mengatakan “Kristus menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan menjadi kutuk karena kita”, menanggung dosa kita.

Dengan mengetahui bahwa kita diselamatkan hanya dengan anugerah Tuhan, melalui iman kepada Kristus, dan bukan karena perbuatan kita, bagaimana kita bisa menjalani hidup kita sebagai anak-anak Tuhan, khususnya di dalam kaitan dengan hukum Taurat?

Apakah dengan anugerah itu kita sekarang bisa berjuang untuk mentaati hukum Taurat? Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya fokusnya bukan kepada hukum Taurat, tetapi fokusnya adalah kepada kasih. John Frame mengatakan di dalam “Doctrine of Christian Life”, “Kasih adalah perintah yang menjadi poros hidup Kristen, dan bukan ketaatan karena tanggung-jawab; karena tujuan hukum Taurat diberikan adalah supaya kita memiliki kasih yang sejati kepada Allah dan sesama yang keluar dari hati yang terdalam.”

Sekali lagi, hukum Taurat diberikan bukan supaya kita mentaati, tetapi untuk menyadari bahwa kita sudah tidak taat, sehingga kita lari kepada Kristus; dan response kita adalah tidak lagi memfokuskan kepada hukum Taurat, tetapi kepada kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. John Frame mengatakan “Biblical ethics is first of all, personal, for God is the Absolute Person”. Prinsip Biblical ethics, bukan hukum, tetapi personal, kepada Tuhan, mengasihi Dia dengan segenap hati, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Waktu kita mengasihi justru kita menggenapi hukum Taurat.

Di sini Paulus menyatakan tidak ada pertentangan antara kasih dan hukum. Alkitab mengajarkan hukum yang terutama adalah kasih, tetapi di sisi lain Tuhan Yesus mengatakan barang siapa yang mengasihi Aku adalah orang yang mentaati perintah-perintah-Ku. Love requires Law dan Law requires Love; seperti satu hal yang dilihat dari dua sisi yang berbeda. Perbedaannya adalah di dalam fokus atau penekanan. Hukum itu menekankan pada tindakan yang kita lakukan, sedangkan kasih menunjuk kepada motivasi hati dalam melakukan tindakan tersebut.

Jadi fokus kita sebagai anak-anak Tuhan yang telah ditebus, bukan kepada hukum Taurat, tetapi kepada kasih. Kasih menurut Alkitab bukan konsep yang abstrak, dan Allah menyatakan isi kasih di dalam perintah-perintah-Nya. Dengan demikian ketika kita mengasihi , kita menggenapi hukum Taurat.

Sebagai contoh di dalam 2 Samuel 23:16, diceritakan Daud yang sedang berkumpul di gua Adulam, dengan 3 panglima perangnya. Daud mengatakan betapa rindunya dia dengan air dari sumur di dekat Bethlehem. Sebenarnya dia hanya menyatakan kerinduannya dan bukan mengeluarkan perintah, tetapi ketiga panglima tersebut pergi mempertaruhkan nyawa mereka masuk ke tengah-tengah musuh dan mengambil air dari sumur itu. Mereka memberikan air itu, dan Daud kaget, terkejut dan menuangkan air itu di hadapan Tuhan. Daud mengatakan bahwa tidak mungkin dia meminum darah hasil pertaruhan panglima-panglima tersebut. Ketiga panglima ini dipuji sebagai kasih dari mereka kepada Daud. Kasih mereka kepada Daud, mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik bagi raja mereka.

Ini bisa menjadi pelajaran bagi kehidupan kita, kalau kita fokus kepada hukum, menjadi berat mentaati Tuhan. Tetapi Alkitab menegaskan fokusnya harus kepada kasih. Paulus di dalam surat Korintus mengatakan bahwa kasih Tuhan itu mendesaknya untuk melayani jemaat di Korintus. Sebenarnya tidak harus dia melakukan itu, tetapi ketika dia mengasihi Tuhan, maka kasih itu mendorongnya untuk melakukan apa yang memuliakan Tuhan. Ketika kita mengasihi orang lain, kasih itu mendorong kita untuk mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri.

Biarlah renungan ini membuat kita bertanya apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Tentu kita tidak sempurna, tetapi biarlah kita memiliki kasih yang mendorong kita untuk berjuang untuk mentaati Tuhan, dan inilah yang berkenan kepada Tuhan. Dengan jalan ini, kita bisa melakukan banyak hal-hal yang ekstra ordinary, yang dapat kita kerjakan di tengah-tengah dunia ini. Janda yang memberikan dua keping perak, memberikan jauh lebih banyak, karena Taurat hanya memerintahkan sepersepuluh saja; dia melakukan hal yang luar-biasa, karena kasihnya kepada Tuhan.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya