Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Mengasihi Diri dengan Benar

Ibadah

Mengasihi Diri dengan Benar

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 September 2014

Bacaan Alkitab: Roma 13:8-10, Yoh 13:34

Dalam ayat Roma 13:8-10 kita memikirkan tentang hutang kasih, dan bagaimana hutang kasih itu dinyatakan, dengan mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri. Kita berhutang kasih kepada saudara seiman bukan karena karena orang lain sudah mengasihi kita, tetapi karena Kristus yang sudah menyelamatkan kita. Dia yang sudah mengasihi kita dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, karena itu kita wajib dan berhutang untuk menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita.

Ketika Kristus menyerahkan nyawa-Nya, kita bukan berhutang kepada Kristus, karena itu sesuatu yang tidak .mungkin. Waktu kita melayani Dia kita bukan sedang membayar hutang kepada Tuhan; ini adalah konsep yang salah. Karena waktu kita mentaati Tuhan, kita bukan sedang membayar hutang kepada Tuhan. Hutang kita bukan berkurang, tetapi hutang kita semakin dalam. Karena pelayanan yang kita lakukan kepada Tuhan, hanya bisa dikerjakan oleh kekuatan yang Tuhan berikan, maka kita berhutang kepada Tuhan.

Paulus mengatakan (1 Kor 15:10) “Kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada semua Rasul, tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”. He gives us more grace when the burden grows greater, He gives us more strength when the labour increase. Waktu beban pelayanan (burden) meningkat, Dia memberikan berkat yang lebih. Ketika perjuangan mentaati Tuhan semakin susah, Dia memberikan kekuatan yang lebih. Karena itu Paulus mengatakan (2 Kor 12:9b) “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku”,  karena ketika Paulus lemah dia bisa berseru kepada Tuhan, dan Tuhan memberi anugerah (2 Kor 12:9a) “My Grace is sufficient for you”. Ketika Tuhan memberikan anugerah-Nya maka kita berhutang kepada orang lain, berhutang kasih kepada orang lain.

Kita akan memikirkan kaitan tentang hutang kasih dengan mengasihi diri sendiri (self-love). Roma 13:9 mengatakan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Kita sering mendengar perintah ini, tetapi apa artinya perintah ini?

Waktu saya masih remaja, dalam salah satu retreat remaja, pendeta mengatakan mengapa kita sulit mengasihi orang lain. Menurut dia, persoalannya adalah karena kita kurang mengasihi diri. Argumentasinya, adalah kalau kita tidak mengasihi diri sendiri bagaimana kita bisa mengasihi orang lain. Kalau kita bisa melihat diri sendiri dengan high self-esteem maka kita mudah mengasihi orang lain. Tetapi kalau kita memikirkan kembali hal ini, ada dua kesalahan dari argument ini:

  1. Waktu Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius (Mat 22:39) kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri, bagian ini tidak memerintahkan untuk mengasihi diri sendiri. Tetapi Tuhan mengasumsikan bahwa kita sudah mengasihi diri sendiri.
  2. Bagian ini tidak berbicara tentang self-esteem, tetapi berbicara bagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Mengasihi diri adalah suatu komitmen, sadar atau tidak sadar yang sudah ada di dalam diri kita, melakukan apapun untuk melakukan apa yang menyenangkan diri kita. Di dalam Efesus 5:28, Paulus mengaplikasikan dalam kasih antara suami dan istri. Karena dia yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Jadi semua orang tanpa kecuali sangat mengasihi dirinya sendiri. Kalau kedinginan kita pasang heater, kalau kepanasan, kita pasang AC. Tetapi Bagaimana dengan orang yang masochists atau yang bunuh diri. Orang yang masochists yang menyakiti diri sendiri sebenarnya mendapatkan strange pleasure, kesukaan yang aneh. Dia ingin menghilangkan sakit yang lebih dalam. Ada seorang pendeta yang bertemu dengan seorang wanita yang memotong perutnya sendiri dengan pisau. Wanita itu mengatakan bahwa hal itu adalah satu-satunya cara dia boleh diperhatikan oleh orang lain. Orang yang membunuh diri, karena tertekan dan dengan kesulitan yang besar. Dia ingin lepas dari kesulitannya, atau dengan kata lain dia ingin mengejar suka cita.

Setiap orang ingin dikasihi. Firman Tuhan untuk Mengasihi diri sendiri bukan hanya berbicara tentang apa yang ingin kita lakukan untuk diri sendiri kita lakukan untuk orang lain, tetapi juga berapa besar usaha kita dalam mengasihi diri sendiri.

Mengasihi diri sendiri itu bukan suatu masalah, tetapi masalahnya kita mengasihi diri dengan mengorbankan kasih kepada orang lain. Kita tidak berusaha mengasihi orang lain seperti kita berusaha mengasihi diri kita sendiri. John Piper mengatakan ““Make the degree of your-self seeking” - the measure of yourself giving”. Bukan hanya “apa” tetapi juga “berapa besar perjuangan” yang membuat diri kita bersuka cita. Biarlah usaha yang ada di dalam jiwa kita, menjadi ukuran untuk mengasihi orang lain.

John Murray, seorang professor Teologi di Westminster theological seminary, dia mengatakan harus ada note tentang love your neighbor as yourself. Kata as yourself itu sering kali dilupakan, John Murray mengatakan “It is unnatural and impossible for us not to love ourself”. Kita harus mengasihi orang lain dengan usaha yang sama seperti kalau kita mengasihi diri sendiri.

Bagaimana kita mengasihi diri sendiri? Kita ingin diperhatikan, maka kita harus perhatikan orang lain. Kita merasa takut, kita harus menghibur orang lain yang sedang ketakutan. Ini adalah suatu panggilan yang radikal. Kalau kita bisa menikmati hidup, maka kita harus berusaha membuat orang lain juga menikmati hidup. Herannya waktu kita mengasihi orang lain, kita justru bukan kehilangan diri tetapi menemukan diri. Kita berkorban, kita tidak kehilangan sukacita, justru kita menemukan hidup yang berkelimpahan. Di Matius 16:25, dikatakan kalau engkau berusaha menyelamatkan nyawamu, justru akan kehilangan nyawa, tetapi kalau engkau kehilangan nyawa karena Kristus, engkau justru memperolehnya, dan memperoleh hidup yang berkelimpahan.

Ada orang yang beragumen bahwa dia belum mau mencari pacar karena masih mau selfish (atau Narcist). Dahulu di Grika, ada seorang yang bernama Narsisius, yang melihat dirinya sendiri di kolam, dan kemudian jatuh cinta kepada bayangnya sendiri dan masuk ke kolam sampai dia mati. Dia berusaha mencintai nyawanya tetapi justru kehilangan nyawa. Dalam konteks yang berbeda, CS Lewis mengatakan bahwa ada orang yang berpendapat bahwa “aku tidak mengasihi orang lain karena mengasihi orang lain itu penuh resiko.” Memang waktu kita mengasihi orang lain, ada banyak kemungkinan bagi kita untuk broken hearted. Tetapi apa alternatifnya, kita bisa jaga hati kita, dengan tidak memberikan hati kita kepada siapapun. Hati yang dibungkus rapat-rapat, akan unbreakable, tetapi juga akan impenetrable, but also irredeemable (tidak bisa ditebus). Mengasihi orang lain itu memiliki risiko yang besar, tetapi justru akan menyelamatkan diri kita. Kalau kita berusaha untuk selfish dan narcist, menyenangkan diri sendiri, kita justru akan kehilangan hidup kita.

Ini adalah keindahan dari Firman, di dalam jalan yang penuh risiko, ada penyertaan Tuhan. Jalan yang lebar seperti lancar tetapi ujungnya menuju maut. Berjalan dalam jalan yang sempit, dengan resiko hati kita akan dihancurkan, tetapi justru kita akan melihat penyertaan Tuhan yang memberi anugerah.

Sampai di sini, ada dua masalah yang perlu diklarifikasi:

  1. Bagaimana kalau yang saya inginkan adalah yang salah, seperti terlalu mengejar uang, pesta pora. Seperti orang tua yang selalu mengejar uang, dan dia mengasihi anaknya dengan mengajarkan untuk juga mengejar uang.
  2. Siapa yang bisa mengasihi dengan mengerahkan usaha yang sama bahkan lebih dibanding usaha mengasihi diri sendiri?

Kedua masalah ini dijawab dengan pernyataan Tuhan Yesus dalam Yoh 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”.  Kasih Kristus menjadi standar. Mengasihi diripun harus diukur dengan standar seperti Kristus mengasihi kita.

Bagaimana Kristus mengasihi kita? 1 Petrus 3:18 menyatakan “Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yant tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah”. Kristus mengasihi kita dengan yang terbaik, yang paling berharga, memberikan hidup yang berkelimpahan, yaitu dengan memberikan diri-Nya. Yesus mengatakan (Yoh 10:10) “I’ve come to give life and life to the full”. Hidup yang Yesus berikan yaitu diri-Nya sendiri, karena (Yoh 14:6) “Akulah jalan kebenaran dan hidup”. Yesus memberikan diri-Nya untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Yesus mengasihi kita dengan membawa kita ke dalam persatuan dengan Allah.

Jadi kalau kita mengasihi sesama kita, seperti Kristus telah mengasihi kita, maka kita akan membawa mereka kepada Kristus. Kita akan memperkenalkan Kristus kepada mereka. Inilah kasih yang terbesar: mengasihi mereka dengan membawa mereka kepada Tuhan. Inilah kasih dari Pak Tong yang terus ke mana-mana pergi memberitakan Injil, membawa orang kepada Tuhan.

Biarlah kita boleh mengasihi orang dengan membawa orang itu kepada Tuhan. Bahkan waktu kita kehilangan nyawa, itu juga adalah keuntungan. Paulus mengatakan (Filipi 1:21b) “Mati itu adalah keuntungan”, karena ketika mati dia mendapatkan Kristus. Dia kehilangan semuanya, tetapi semuanya adalah sampah, dan Kristus adalah yang lebih berharga daripada segala sesuatu.

Tetapi bukan hanya saat mati, Paulus melanjutkan (Filipi 1:22-25) karena kasihnya kepada jemaat yang dia layani, lebih baik baginya untuk masih tinggal dengan mereka, karena (Filipi 1:21a) hidup adalah Kristus juga. Sekarangpun ketika aku mengasihi engkau, hidup adalah Kristus, dan sekarangun juga aku mengalami Kristus yang paling berharga, karena itu aku memberitakan Kristus kepadamu. Paulus pergi ratusan kilometer, jalan kaki ke mana-mana, sampai Injil itu akhirnya sampai kepada kita. Kalau kita mengasihi orang lain maka kita akan berjuang sekuat tenaga untuk membawa mereka kepada Kristus.

Yang terakhir, bagaimana kita bisa melakukan hal ini. Kita perlu mengerti bahwa kematian Kristus bukan hanya menjadi teladan bagi kita. Tetapi lebih daripada itu, kematian Kristus memberikan hidup baru kepada kita. Oleh pekerjaan Roh-Kudus kita diberi anugerah, dan tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan. Kasih-Nya itu memampukan kita untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Biarlah kebenaran ini mendorong kita untuk mengasihi seperti diri sendiri. Kalau kita semua mengasihi seperti di atas, maka betapa indahnya, betapa radikalnya hidup kita, betapa kelimpahan yang kita bisa bagikan di tengah-tengah dunia ini.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya