Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Happy Father's Day

Ibadah

Happy Father's Day

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 7 September 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Kolose 3:20-21

Pembacaan Alkitab di atas adalah dalam rangka Father’s Day dan merupakan kelanjutan dan aplikasi yang tepat dalam konteks permbahasan eksposisi Roma pasal 13. Dalam Roma 13 membicarakan tentang otoritas yang ada di atas kita, khususnya berbicara tentang pemerintah; kaitan bagaimana orang Kristen hidup di tengah-tengah dunia ini dimana ada pemerintah atau otoritas di atas kita. Otoritas bukan hanya berbicara tentang pemerintah tetapi juga segala otoritasyang Tuhan tetapkan di atas kita. Salah satunya juga adalah orang tua yang Tuhan berikan kepada kita.

Dalam Kolose 3 ayat 20, secara khusus Tuhan berkata kepada para ayah: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

Untuk merenungkan ayat ini, dapat dibagi dalam tiga bagian yang jelas: 

1. Hai bapa-bapa

Bagian terkait dengan pengertian/konsep tentang Allah sebagai bapa kita yang di sorga. Hal ini penting sekali untuk dimengerti karena Bapa kita yang di sorga  adalah menjadi patrun dari semua ayah yang ada di tengah-tengah dunia ini. Semua apa yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh ayah itu akan diuji, dihakimi berdasarkan patrun dan karakter, atribut dari pada Allah, Bapa kita yang di sorga. Biarlah melalui apa yang kita pikirkan, renungkan, boleh menjadi satu refleksi daripada karakter atau atribut dari pada Allah, Bapa kita di sorga. Melalui hidup kita biarlah sungguh merefleksikan akan karakter Allah yang kadang-kadang bersifat paradoks. Sebagai anak-anak yang sudah di dalam Tuhan, biarlah kita dapat merefleksikan karakter daripada Allah, Bapa kita di sorga, merefleksikan kekuatan Allah dan juga kelembutan-Nya, keadilan, ketegasan Allah sekaligus juga belas kasihan-Nya, keagungan dan juga kerendahan hati-Nya.   

 Walaupun kita tidak punya ayah seperti yang digambarkan dalam Alkitab, tetapi kita boleh dihiburkan karena kita semua di dalam Kristus memiliki satu ayah, yaitu Bapa kita di sorga. Kita boleh dikuatkan, didorong untuk hidup makin memperkenan Tuhan menjadi ayah yang Tuhan inginkan.

Bukan semua orang memiliki Allah sebagai Bapa yang di sorga. Paulus dalam kitab Roma mengatakan jika orang tidak memiliki Roh Kristus, dia bukanlah milik Kristus, bukanlah anak-anak Allah. Tuhan Yesus di dalam Yohanes 8:42-44 menegur orang-orang Yahudi yang ingin membunuh Dia “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku… Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.”

Allah di sorga adalah Bapa bagi anak-anak-Nya saja, bagi orang-orang di dalam Kristus, orang-orang yang sudah lahir baru. Dalam pengertian ini juga tidak ada konsep brotherhood of man. Tidak semua orang adalah saudara. Yang disebut saudara adalah orang-orang di dalam Kristus. Mereka yang belum percaya, tidak memiliki Allah sebagai Bapa, tidak memiliki kita sebagai saudara. Tetapi mereka adalah sesama manusia.

 2. Janganlah sakiti hati anakmu

Perintah ini adalah secara negatif, do not provoke/embitter your children (NIV). Ini adalah kata yang mau menegaskan jangan lakukan apapun yang menghancurkan pengharapan anak-anakmu di dalam Tuhan. Hal ini perlu bijaksana yang tinggi seperti kita belajar bagaimana Bapa di sorga membentuk Rasul Paulus dalam 2 Korintus. Ada waktu-waktu tertentu anak-anak justru perlu di-discourage dalam jangka pendek.; ada waktu-waktu ketika confidence-nya, sukacitanya, pengharapannya di dalam diri, kemampuan, kekayaan, kepopulerannya itu harus di-discourage, membuatnya menjadi tawar hati. Kita perlu hikmat bijaksana dari Tuhan untuk tahu kapan waktunya.  Dalam jangka panjang, yang akan dihasilkan adalah pengharapan yang tidak di dalam segala sesuatu di luar Tuhan.

Sebagai ayah, kita bisa gagal untuk bersukacita dan berharap di dalam Tuhan - kita sendiri sukacitanya di dalam hal-hal yang lain. Kalau kita lebih bersukacita untuk liburan, daripada beribadah kepada Tuhan, apakah kita akan mendidik anak-anak kita bersuka di dalam Tuhan dan bukan lebih bersuka karena liburan. Siapa kita itu berbicara lebih kuat daripada apa yang kita katakan khususnya kepada anak-anak kita apalagi kepada Tuhan. Kalau kita bersukacita dan berharap tidak di dalam Tuhan, bukan karena Tuhan bagaimana anak-anak kita berharap dan bersukacita di dalam Tuhan. Ini adalah kegagalan dari orang tua.  

3.Supaya jangan tawar hatinya (tujuannya)

Tawar hati (discourage) mempunyai banyak pengertian. Hati yang lesu, dingin, tidak ada tujuan hidup. Tuhan memberitakan firman melalui rasul Paulus agar jangan kita menjadi bapa yang membentuk dan memberi dampak tawar hati kepada anak-anak kita.

Lawan dari tawar hati adalah mendidik anak-anak supaya mereka menjadi orang yang penuh pengharapan, penuh sukacita, confidence (bukan self confidence tetapi God confidence). Tetapi kita harus berhati-hati di sini agar jangan sampai kita jatuh ke dalam hanya pengajaran moral yang sama dengan dunia ini. Semua orang tua yang normal dalam dunia ini pasti ingin agar anaknya punya hidup penuh pengharapan, sukacita, penuh confidence. Tetapi kalau berhenti hanya sampai di sini, maka kita tidak perlu Tuhan.

Yang lebih mendasar dan lebih mendalam adalah kita ingin membentuk anak-anak yang penuh pengharapan, tetapi bukan penuh pengharapan yang karena mereka banyak uang, karena mereka pintar, karir yang baik, memiliki pendidikan yang tinggi, karena populer di sekolah. Kalau kita mengikut Tuhan dan mengerti prinsip Allah sebagai Bapa kita di sorga maka kita tahu bahwa Allah kadang-kadang sengaja kalau kita confidence di dalam uang, kepintaran, karir yang sukses, Tuhan seringkali mengijinkan, menghancurkan, mengambil semua itu dari diri kita. Baru kita boleh tahu dimana pengharapan kita, sukacita kita, confidence kita.

2 Korintus ditulis oleh Paulus setelah kira-kira 20 tahun pelayanan dan pertobatannya. Kemana-mana dia sudah pergi memberitakan Injil, sudah mengalami banyak kesulitan, banyak anugerah, banyak pertolongan Tuhan, mujizat melalui hidupnya, tetapi dalam 2 Korintus 1:8-9 dia menuliskan bahwa dia merasa Tuhan masih harus menarik akar confidence dia.  Di mana confidence Paulus, di mana kepercayaan dia, di mana pengharapan dia dengan kesulitan yang begitu besar sehingga dia putus asa atas hidup yang begitu berat; seolah-olah telah dijatuhi hukuman mati. Tuhan ijinkan itu terjadi, ada maksud Tuhan di situ. “Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati”. Kita dipanggil Tuhan untuk membangun anak-anak yang seperti demikian. Hal yang tidak mudah. Banyak anak yang semangat, penuh pengharapan, sukacita karena mereka pintar, populer, punya resource. Tetapi biarlah kita mendidik mereka bahwa kalau itu semua ada, mereka tidak berharap/bergantung kepada hal itu, tapi pengharapan hanya di dalam Tuhan.  

Dalam Kolose 3:21 hanya disebutkan bapa-bapa. Karena bapa adalah the primary responsible - orang yang paling bertanggung jawab di dalam keluarga (the head of the family). Kepala keluarga berarti dia orang yang paling bertanggung jawab kemana keluarganya pergi, kemana keluarganya jalan, yang paling bertanggung jawab membawa seluruh keluarganya menjadi keluarga yang beribadah kepada Tuhan. Kalau keluarga gagal, yang paling gagal adalah ayahnya.

Biarlah kita menjadi diingatkan, didorong, ditegur supaya kita boleh menjadi bapa-bapa yang berkenan kepada Tuhan yang mengikuti Bapa kita yang di sorga. Mengikuti Tuhan, mengerti menjadi diri apa yang Tuhan inginkan jauh lebih penting daripada kita mempelajari teknik-teknik parenting yang lain.

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya