Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Pemerintah Hamba Allah

Ibadah

Pemerintah Hamba Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 24 Agustus 2014

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 13:1-7

Bagian ini berbicara tentang suatu tema yang besar dan penting, yaitu tentang relasi orang kristen dengan pemerintah dan tanggung jawab kita di tengah dunia khususnya dengan kaitannya dengan pemerintah. Selain  di Roma 13, Alkitab juga banyak membicarakan hubungan orang Kristen dengan pemerintah, salah satunya adalah Petrus yang mengatakan di dalam 1 Ptr 2:17 bahwa kita perlu tunduk kepada raja sebagai penguasa yang tertinggi.

Di dalam konteks Indonesia, yang baru selesai pemilihan umum/presiden, dengan segala ketegangan yang terjadi, kita boleh melihat Paulus mengatakan prinsip yang begitu positif.  Paulus sepertinya tidak menjelaskan bagaimana dengan pemerintah yang bengis, yang menindas orang-orang kristen. Dalam Roma 13 ini, Paulus tidak membahas tentang hal-hal yang negatif dari pemerintahan, tetapi tentu saja Paulus tahu tentang hal itu. Di dalam bagian-bagian lain Alkitab, seperti ketika Petrus memberitakan Injil dan di tangkap oleh pemerintah, Petrus mengatakan “kami harus lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia”. Alkitab mengajarkan dalam waktu-waktu tertentu kita memang boleh melawan pemerintah.

Tetapi mengapa Paulus di dalam Roma 13:1-7 tidak berbicara tentang sisi negatif pemerintahan, dan hanya berbicara sisi positifnya saja?

Kalau kita mengikuti berita di Indonesia, di tengah segala ketegangan dan kerusuhan yang terjadi, kita bisa melihat bahwa kerusuhan tersebut bisa di atasi karena, seperti yang dikatakan Paulus “tidak percuma pemerintah menyandang pedang”. Makamah Konstitusi itu adalah hamba Allah untuk kebaikan kita. Bayangkan kalau tidak ada Makamah Konstitusi, maka bisa terjadi kekacauan yang besar, karena tidak ada institusi yang bisa menyelesaikannya. Kita boleh berbangga dengan Indonesia karana seperti juga yang Paulus katakan juga “yang berbuat jahat takutlah”, sekarang ini pejabat-pejabat ketakutan kepada KPK, bahkan menteri dan ketua partai-pun ditangkap dan dipenjara.

Kali ini kita akan memfokuskan kepada sisi positif dari pemerintahan, walaupun ada banyak orang-orang Kristen ditindas, di Cina, di Korea Utara dan bahkan di Indonesia. Di dalam bagian ini Paulus menyatakan empat alasan mengapa kita harus tunduk kepada pemerintah.

  1. Di dalam ayat 13:1b “sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.”. Ini menyatakan bahwa semua pemerintah, bahkan yang bengis sekalipun, tidak ada pengecualian, semunya  berasal dari Allah. Ayat Roma 13:2 menjadi implikasinya “Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” Ayat Roma 13:6b meneruskan dengan “karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah”.  Pemerintah adalah alat yang Tuhan pakai untuk mengatur manusia yang sudah jatuh di dalam dosa. Jadi kita perlu menghargai dan tunduk kepada otoritas; kalau kita melawan otoritas, maka kita melawan Tuhan.
  2. Roma 13:4a mengatakan “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu.” Tidak semua orang boleh membuat hukum sendiri. Bayangkan jika tidak ada pemerintah, maka akan terjadi chaos, di mana setiap orang mementingkan kepentingannya sendiri. Bahkan pemerintah yang jahat sekalipun mempunyai fungsi bagi rakyatnya. Bad government is better than no government at all. Kita harus mengikuti peraturan, seperti mempersiapkan planning permit dalam pembangunan gedung gereja, dan speed limit di jalan. Kalau kita ikuti peraturan lalulintas, jalan raya justru menjadi tidak macet karena semua mobil bisa bergerak bersama-sama.
  3. Roma 13:4b mengatan “Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Pemerintah diberikan hak oleh Allah untuk menyandang pedang dan menghukum orang yang berbuat jahat. “Pedang” memberi implikasi bahwa hukuman bahkan hukuman mati adalah sesuai dengan prinsip Alkitab.Negara-negara barat seperti Australia dlsb, menolak hukuman mati tetapi menyetujui aborsi. Waktu kita membahas Christian Ethics, salah satu yang kita mengerti justru terbalik dengan apa yang dunia katakan. Kita justru tidak menyetujui aborsi tetapi menyetujui hukuman mati, khususnya dalam kasus-kasus yang ekstrim. Seperti dalam kasus bom Bali, orang Australia menghadapi kesulitan di mana di satu pihak mereka tidak menyetujui hukuman mati, tetapi dipihak lain ingin pelaku pemboman dihukum seberat mungkin. Terhadap pelaku kejahatan seperti ini, kita setuju dengan hukuman mati. Justru sebaliknya kita tidak setuju dengan aborsi, karena kita melindungi orang-orang yang tidak punya suara. Kalau orang jahat bebas melakukan kejahatan dan tidak merasa takut, justru orang-orang yang baik yang akan merasa takut. Kita bersyukur karena Indonesia mulai semakin baik di mana orang-orang yang jahat mulai merasa ketakutan. Kita perlu mendoakan supaya jajaran pemeritah boleh menegakkan keadilan, menghukum yang jahat, dan memuji orang yang berbuat baik.
  4. Roma 13:3 mengatakan “Jika seorang berbuat baik maka ia tidak usah takut kepada pemerintah”. Kalimat ini secara tidak langsung menyatakan bahwa di balik dan di atas kuasa pemerintah ada kuasa yang lebih besar.  Dengan kalimat ini kita sadar, hal yang baik dan yang jahat itu ada di luar pemerintah. Kalau kita melakukan yang baik, maka pemerintah ada atau tidak ada, kita tidak peduli. Kalau kita berbuat baik maka pemerintah akan setuju dan tidak akan menganiaya kita. Atau dengan kata lain pemerintaha harus tunduk kepada apa yang baik dan apa yang jahat. Jadi di balik dan di atas pemerintah ada kuasa yang lebih besar yang mendefinisikan apa yang baik dan apa yang jahat, yaitu Allah itu sendiri dan hukum moral Allah. Apa yang baik dan yang jahat itu bukan didefinisikan oleh pemerintah.

Pemerintah adalah hamba Allah yang harus melakukan apa yang Allah inginkan. Pemerintah harus tunduk kepada Allah. Pemerintah harus mendukung kebaikan dan menghukum kejahatan. Kita harus tunduk kepada pemerintah karena Allah-lah yang menentukan apa yang baik dan yang jahat dan pemerintah mengkonfirmasi otoritas yang Allah berikan kepada mereka.

Walaupun banyak negara barat mulai menjadi sekuler, namun banyak hukum-hukum yang mereka pakai sebenarnya adalah hasil pekerjaan orang-orang Kristen yang takut akan Tuhan. Kita bisa melihat hukum moral Allah teraplikasi dalam hukum-hukum negara yang membentuk hidup masyarakat. Kita menghargai banyak peraturan-peraturan seperti Fairness, yang sebenarnya berdasarkan Firman Tuhan yaitu prinsip keadilan, yang bisa diterapkan di dalam hukum yang berlaku.

Alasan keempat di atas khususnya membawa aplikasi dalam kaitannya dengan orang Kristen. Bagaimana pemerintah mempunyai tanggung-jawab kepada orang-orang yang ada di dalamnya. Pemerintah harus tunduk kepada hukum moral Allah, sehingga menjadi hamba Allah yang melaksanakan apa yang Allah inginkan. Ini menjadi alasan mengapa Paulus tidak memberikan exception untuk pemerintah yang jahat, mereka-pun harus tunduk kepada prinsip ini.

Paulus ingin mengatakan kepada pemerintah, bahwa orang-orang Kristen adalah orang-orang yang tunduk. Kemungkinan Paulus tahu bahwa tulisannya akan sampai kepada pemerintah Roma. Paulus membagikan tulisan ini supaya bukan hanya dibaca orang Kristen tetapi dibaca pemerintah. Bukan hanya orang Kristen harus tunduk kepada pemerintah tetapi juga pemerintah yang harus tunduk kepada hukum Allah.

Kita juga melihat pentingnya orang-orang Kristen yang ikut berbagian di dalam mengambil kebijakan-kebijakan pemerintah. Seperti, gubernur Ahok, disukai oleh banyak orang-orang yang bukan Kristen, karena mereka sudah muak terhadap pejabat-pejabat yang terdahulu. Kita bersyukur karena muncul orang-orang yang boleh menegakkan keadilan.

Kita mendorong jika ada di antara kita yang mengerti kebenaran mau terjun berbagian dalam pemerintahan. Kita sudah terlalu lama yang mengikuti mentalitas korban (victim mentality), karena pemerintah yang lama mempunyai dampak negatif yang besar. Tetapi sekarang ada banyak kesempatan, dan orang Kristen harus memanfaatkan kesempatan untuk berbagian dalam pemerintahan.

Dalam bagian ini Paulus menyatakan dua kebenaran penting:

  • Orang-orang Kristen bukanlah pemberontak yang akan mengacau Roma, mereka membayar pajak, mengasihi orang berdosa, dan akan membawa dampak yang baik kepada negara Romawi. Ketika orang Kristen mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, itu bukan hanya pengakuan iman, tetapi juga merupakan pengakuan politik. Karena pada jaman itu, hanya ada satu tuan yaitu kaisar Roma. Kalau engkau mempunyai tuan (tuhan) yang lain, maka bisa dianggap pemberontak, bisa dipenjara dan dibunuh. Paulus mengatakan ketika orang Kristen mengaku Yesus adalah Tuhan dan bukan Kaisar yang menjadi Tuhan, orang Kristen bukan mau memberontak, tetapi mau mengatakan bahwa Allah yang berdaulat segala sesuatu dan bukan Kaisar.
  • Kaisar yang berkuasa saat itu harus tunduk kepada Allah. Waktu penguasa membaca Roma 13:3 “Sebab jika seseorang berbuat baik ia tidak usah takut kepada pemerintah”, maka orang itu tidak usah takut kepada penguasa, karena penguasa pun harus tunduk kepada kebaikan. Kalau orang itu berbuat jahat, baru penguasa menghukumnya. Pemerintah sendiri justru harus tunduk God’s moral law. Pemerintah mengkonfirmasi hukum itu; yang baik dipuji dan didorong tetapi yang jahat dihentikan dan dihukum.

Kalau pemerintah melakukan yang sebaliknya, menghukum yang baik dan mendukung yang jahat, maka pemerintah sudah melawan apa yang Tuhan katakan yaitu bahwa pemerintah adalah hamba Allah bagi kebaikan manusia. Allah yang berdaulat, sepanjang sejarah akan menggulingkan pemerintah yang seperti demikian. Allah menghantam pemerintah yang jahat itu dan mendirikan pemerintah yang baru, dan pemerintah yang baru itu juga berasal dari Allah.

Jika ada pemerintah yang mendukung kejahatan, maka rakyat akan marah dan menggulingkan pemerintahan. Demokrasi yang walaupun tidak sempurna tetapi adalah salah satu sistem yang kalau ditarik akarnya berasal dari Alkitab juga. Tentu demokrasi harus tunduk kepada kedaulatan Allah. Walaupun ada juga demokrasi di mana manusia (humanis) menjadi puncaknya,  demokrasi adalah sistem yang baik karena mewakili suara rakyat. Kalau pemerintah menghukum yang baik dan mendukung yang jahat, rakyat pasti akan protes dan menggulinkan pemerintah, dan itu adalah yang Tuhan kerjakan kepada pemerintah yang tidak benar.

Biarlah kita sebagai anak2 Tuhan yang berinteraksi dengan dunia ini. Roma 12:2 mengatakan “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah sesuai pembaharuan budimu.” Di satu sisi  kita dilarang untuk menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi bukan berarti kita menarik diri secara total dari dunia ini, sebaliknya kita diutus seperti domba di antara serigala, untuk melakukan kehendak Allah yang baik dan sempurna itu. Biarlah kita boleh semakin bijaksana untuk mengerti panggilan Tuhan di dalam hidup kita dan berpengaruh menjadi terang dan garam di tengah dunia yang berdosa ini.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya